Kamis, 27 Oktober 2011

MEDIA PEMBELAJARAN

Peta konsep dapat memenuhi semua persyaratan sebagai media pembelajaran sekaligus dapat mewujudkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagaimana yang diutarakan Kemp ( 1994 ) di atas. Lebih daripada itu, peta konsep dapat pula memberikan wawasan baru kepada mahasiswa dan dosen. Sebagaimana diungkapkan DePorter, dkk. (2000) bahwa metode mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi materi, dan memberikan wawasan baru. Peta konsep dikembangkan Tony Buzan pada tahun 1970-an merupakan teknik memetakan konsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikan dengan cara otak memproses informasi yang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehingga informasi lebih banyak dan lebih mudah diingat ( DePorter, dkk. 2000 dan DePorter dan Hernacki, 2002).
Beberapa prinsip penggunaan media dalam pembelajaran dapat dipenuhi ketika menggunakan peta konsep. Mengacu kepada Yusuf Hadi (dalam Nasrun, 2001), media peta konsep memenuhi prinsip: 1) merupakan bagian integral dari pelajaran; 2) memberikan peluang kepada mahasiswa untuk menanggapinya dalam rangka melatih perkembangan bahasa baik lisan maupun tulisan; 3) pemakaian peta konsep tidak menuntut persiapan khusus; 4) peta konsep sangat simpel, sehingga tidak membingungkan, bahkan berpotensi memperjelas pelajaran; 5) mengikutsertakan tanggung jawab mahasiswa pada saat menggunakannya. Istimewanya lagi, pemakaian media peta konsep : 1) berhubungan erat dengan aspek-aspek pembelajaran yang lain; 2) cocok dipakai untuk menyajikan semua unit pelajaran; 3) Dapat digunakan atau sesuai untuk segala kegiatan belajar.
Peta konsep dapat digunakan untuk beberapa keperluan dalam pembelajaran dengan tingkat efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang tinggi. Peta konsep dapat mengongkritkan konsep-konsep abstrak dan mengaktifkan mahasiswa. Pembuatannya tidak membutuhkan waktu yang lama, tidak membutuhkan biaya yang tinggi, sebagaimana menulis ringkasan secara konvensional atau dengan pengetikan dengan komputer. Bahkan, peta konsep dapat dibuat dimana saja dan kapan saja. Teknik peta konsep yang mensyaratkan dibuat dengan bentuk huruf yang bervariasi dan menggunakan warna aneka ragam dapat menjadi daya tarik tersendiri dan memenuhi kebutuhan estetik pembuatnya. Svantesson (2004) mengatakan teknik ini dapat digunakan untuk membuat ringkasan buku dan ringkasan pelajaran serta ketika membutuhkan struktur.
Peta konsep pun dapat menjadi pendukung pemakaian beberapa model pembelajaran inovatif. Model Mind Mapping sebagai salah satu teknik pembelajaran kooperatif dengan memecahkan masalah, pada sintak-sintaknya menghendaki mahasiswa menuliskan alternatif pemecahan masalah yang mereka temukan, mengungkapkannya dalam kelas, dan dosen menuliskannya di papan tulis sambil melakukan pengelompokkan atas ide-ide atau gagasan mahasiswa tadi, kemudian mencocokkannya dengan konsep yang telah disiapkan dosen. Penulisan ide-ide atau gagasan tersebut oleh mahasiswa dan pencatatan serta pengelompokkannya di papan tulis oleh dosen sangatlah cocok dengan menggunakan peta konsep.
Demikian pula halnya perkuliahan dengan Model Elaborasi ( Elyusra, 2007), yakni strategi berbasis Theory Elaboration. Pendekatan Teori Elaborasi yakni preskripsi tentang cara pengorganisasian materi pembelajaran dengan mengikuti urutan umum-ke-rinci, dimulai dengan menampilkan epitom atau struktur isi mata kuliah yang dipelajari, kemudian diikuti elaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitom secara lebih rinci. Pembelajaran dirancang dengan tujuh komponen strategi, yaitu: 1) urutan elaboratif untuk struktur utama pengajaran; 2) urutan prasyarat pembelajaran, di dalam masing-masing subjek pembelajaran); 3) summarizer (rangkuman); 4) syntherizer (sintesa); 5) analogi; 6) cognitive strategy activator (pengaktif strategi kognitif); 7) kontrol belajar ( Reigeluth dan Stein, 1983). Implikasi ketujuh komponen tersebut dalam perkuliahan sangat optimal apabila menggunakan teknik mencatat peta konsep, baik bagi dosen untuk menulis di papan tulis ketika menyampaikan struktur utama mata kuliah, urutan prasyarat pembelajaran, rangkuman, sintesa, dan mengaktifkan strategi kognitif mahasiswa maupun bagi mahasiswa untuk membuat catatan, dan melaporkan tugas meringkas materi kuliah.
Pemakaian peta konsep sebagai bagian Model E-CM-CL (Elaboration- Concept Maps- Circuit Learning) untuk mata kuliah Teori Sastra telah penulis kembangkan selama empat tahun terakhir. Hasil yang sangat signifikan adalah mahasiswa mendapatkan gambaran yang jelas tentang struktur mata kuliah yang akan ditempuhnya pada perkuliahan pertama. Dari jawaban lisan yang diberikan mahasiswa, ternyata mereka memiliki retensi yang baik tentang topik-topik pembahasan pada mata kuliah tersebut. Ringkasan materi kuliah tersebut dapat digunakan pada mata kuliah lanjutan dengan melakukan penambahan cabang dan ranting-rantingnya.
Toni Buzan menciptakan peta konsep pada 1970-an yang didasarkan pada riset tentang bagaimana cara kerja otak yang sebenarnya ( DePoter, dkk. 2000 dan DePoter dan Hernacki 2002). Langkah yang dilakukan dalam membuat media peta konsep adalah dengan memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep inti, kemudian menuliskan kata atau istilah, kelompok kata , sinkatan, atau rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti , sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas – bawah –samping ( Nakhleh, 1994). Sedangkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi dapat ditambahkan untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik. Ditambahkan pula bahwa peta konsep terbaik adalah peta konsep yang warna-warni; menggunakan banyak gambar dan simbol; biasanya tampak seperti karya seni ( DePoter, dkk. 2000, DePoter dan Hernacki 2002, Svantersson, 2004)). Sebagaimana dilaporkan buletin Kontak bahwa pemakaian warna dalam belajar dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman sebesar 47% ( Buletin Kontak, t.t.).
Membuat catatan, merupakan keterampilan belajar untuk belajar. Ia tergolong sebagai kategori kapabilitas belajar tingkat ketiga, yakni strategi kognitif, pada taksonomi yang dibuat Gagne, yaitu: 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektul, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) keterampilan motorik ( dalam Degeng, 1989 ). Media pembelajaran peta konsep dalam pembelajaran tentu merupakan hal baru bagi mahasiswa. Oleh karena itu, kewajiban dosenlah untuk mengajarkan membuat dan menggunakannya kepada mahasiswa.
Pada sisi lain, pemakaian berbagai unsur dalam membuat peta konsep menyebabkan banyaknya indra terlibat. Pemakaian aneka warna dapat mengoptimalkan kerja sama otak belahan kiri dan belahan kanan. Hal ini akan meningkatkan pemahaman terhadap materi perkuliahan. Sebagaimana dilaporkan oleh majalah Kontrak, bahwa pemakaian stabilo dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman sebanyak 47% ( Buletin Kontrak, t.t.). Demikian pula dengan keterlibatan anggota tubuh saat membuatnya dan antivitas menyampaikannya akan meningkatkan kompetensi aspek psikomotorik. Sebagaimana dikemukakan oleh Toni Buzan ( 2007) “Semakin banyak, bagian tubuh yang terlibat dalam belajar semakin tinggi hasil belajar. Bahkan peta konsep dapat membantu mahasiswa menajamkan ingatan.”Senada dengan DePorter, dkk. (2000) menyatakan bahwa: “Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran tidak hanya membantu pembelajaran visual, tetapi dapat juga membantu modalitas kinestetik”
5. Data Emperis Pemakaian Peta Konsep dalam Pembelajaran
Penggunaan peta konsep sebagai media pendidikan pertama kali adalah dalam pengajaran sistematika dalam pelajaran Biologi di tahun 1977 ( Novak, 1977). Sejak itu, media peta konsep berkembang dan telah dipergunakan dalam pembelajaran sain ( Pandley, dkk.,1994). Adapun mengenai efektivitas peta konsep untuk mewujudkan pembelajaran yang berhasil di berbagai tingkat pendidikan di Indonesia sudah banyak dilaporkan. Dilaporkan oleh Aleks Mayumis bahwa penggunaan strategi peta konsep bagi siswa SLTP pada mata pelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar ( September, 2003 ). Pengajaran dengan menggunakan media peta konsep efektif digunakan dalam mencapai ketuntasan hasil belajar matematika di sekolah menengah (Situmorang1 www.geocities.com/J_Sains/VolINo3.htm/#_Toc156796043). Penggunaan peta konsep dalam mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika sebagaimana dilaporkan dapat meningkatkan proses dan hasil belajar mahasiswa. Peningkatan proses terutama terjadi dari: a) penilaain yang lebih positif dari mahasiswa terhadap pembelajaran, b) terjadi perubahan kebiasaan menyalin, kemampuan bertanya, dan kegiatan diskusi. Peningkatan hasil belajar mahasiswa terutama pada: a) peningkatan nilai rata-rata, b) hasil belajar lebih homogen ( Mayumis,Juni 2003).
Media pembelajaran peta konsep telah dinyatakan cocok untuk berbagai bidang pengajaran ( DePoter,dkk.,2000 ). Penggunaan media peta konsep untuk pembelajaran sastra telah penulis lakukan selama empat tahun, hasilnya cukup signifikan. Berdasarkan ini penulis sangat optimis, pemakaian peta konsep dalam pembelajaran akan dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
Media pembelajaran peta konsep telah dinyatakan cocok untuk berbagai bidang pengajaran ( DePoter,dkk.,2000). Ia pun cocok untuk materi berupa konsep, prosedur, dan prinsip. Ketiga jenis materi ini senantiasa mendukung pencapaian kompetensi sastra dalam pembelajaran. Misalnya, mahasiswa membutuhkan pemahaman terhadap konsep alur sebelum melakukan kegiatan apresiasi sastra menafsir alur sebuah cerita. Prosedur atau langkah-langkah persiapan membacakan puisi tentu sudah harus dikuasai mahasiswa sebelum mahasiswa melakukan apresiasi membacakan puisi. Demikian juga dengan prinsip pendekatan mimetik , sudah semestinya diketahui mahasiswa sebelum menghubungkan nilai-nilai budaya yang ada di dalam karya sastra dengan nilai-nilai budaya yang ada dalam realitas hidup sehari-hari. Materi pembelajaran sastra tersebut hampi semuanya abstrak. Oleh sebab itu, sangatlah dibutuhkan media untuk pencapaian pemahamannya.
Pada dasarnya untuk mengembangkan penguasaan konsep yang baik hakikat belajar yang dialami mahasiswa hendaknya dalam konteks “mengonstruksi”. Dalam proses membangun atau mengonstruksi pengetahuan, akan muncul pelbagai pelibatan sang diri yang sedang belajar dengan pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Pembangunan yang sukses adalah jika seorang mahasiswa mendapatkan makna ( Hernowo, 2004). Salah satu cara yang dapat mendorong mahasiswa untuk belajar secara “bermakna” adalah dengan penggunaan peta konsep sebagai media pembelajaran yang dapat menunjukkan konsep ilmu secara sistematis, yaitu dibentuk mulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu sama lain, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran ( Pandley, 1994).
6.Teknik Membuat Peta Konsep
Langkah yang dilakukan dalam membuat media peta konsep adalah dengan memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep inti, kemudian menuliskan kata atau istilah, kelompok kata , singkatan, atau rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti , sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas – bawah –samping ( Nakhleh, 1994). Sedangkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi dapat ditambahkan untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik. Ditambahkan pula bahwa peta konsep terbaik adalah peta konsep yang warna-warni; menggunakan banyak gambar dan symbol; biasanya tampak seperti karya seni ( DePoter, dkk. 2000, DePoter dan Hernacki 2002, Svantersson, 2004)). Sebagaimana dilaporkan buletin Kontak bahwa pemakaian warna dalam belajar dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman sebesar 47% ( Buletin Kontak, t.t.).
7. Mengajarkan Teknik Mencatat Peta Konsep
Membuat catatan, merupakan keterampilan belajar untuk belajar. Agar berhasil belajar, setiap mahasiswa harus memilikinya. Ia tergolong sebagai kategori kapabilitas belajar tingkat ketiga, yakni strategi kognitif, pada taksonomi yang dibuat Gagne, yaitu: 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektul, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) keterampilan motorik ( dalam Degeng, 1989 ). Teknik mencatat peta konsep dalam pembelajaran tentu merupakan hal baru bagi mahasiswa. Oleh karena itu, kewajiban dosenlah untuk mengajarkan membuat dan menggunakannya kepada mahasiswa.
Strategi kognitif diajarkan dosen kepada mahasiswa secara terintegrasi dengan penyajian pelajaran, tidak perlu diajarkan secara terpisah ( Pannen, 1997 ). Pada tahap awal, dosen mengajarkannya dengan teknik pemodelan, yakni menggunakannya pada saat penyajian materi. Mahasiswa dapat mengikutinya dengan jalan mencontoh. Secara bertahap mahasiswa diajarkan, misalnya: dimulai dengan melengkapi cabang atau ranting peta konsep suatu materi yang dipelajarinya. Secara bertahap bantuan dikurangi, sehingga akhirnya mahasiswa dapat membuat peta konsep sebagai ringkasan materi kuliah yang diperoleh di dalam kelas dan bentuk pelaporan tugas mengakses dan melaporkan materi kuliah.
Suatu keterampilan dapat dikuasai mahasiswa apabila mahasiswa memiliki pengetahuan tentang keterampilan itu. Mengajarkan peta konsep kepada mahasiswa berkaitan pula dengan perubahan sikap. Dalam hal ini, mahasiswa merespon positif teknik mencatat dengan peta konsep. Sikap ini dapat ditumbuhkan dosen dengan jalan menyampaikan keunggulan teknik mencatat peta konsep. Informasi dari Buzan ini ( 2007:17) dapat digunakan.

0 komentar:

Posting Komentar

Ethiopia

Seseorang yang menjadi sumber kekuatan terbesar adalah pula sumber kelemahan terbesar

Kumpulan Blog Indonesia

CopyMIX


ShoutMix chat widget

Music

Google Music Search

NapoleonHILL

Kebijakkan yang sesungguhnya, biasanya tampak melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap

  ©Template by ji_aray_ininnawa.